News Video Portal

Harga Cabai Naik, Pengamat: Ini Berkah Bagi Petani

 

Harga Cabai Naik, Pengamat: Ini Berkah Bagi Petani
Petani cabai memanen hasil pertanian.(Foto istimewa)

KEPRI.TV, Jakarta – Melonjaknya harga cabai momen tertentu. Kondisi ini tentu dikeluhkan oleh sebagian masyarakat. Berbeda halnya dari kacamata pengamat pangan IPB sekaligus Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santoso. Ia menyebut ini merupakan berkah para petani.

“Ini siklus musiman, dalam arti bulan Januari sampai Februari harga cabai akan selalu tinggi. Jadi biarkah petani menikmati hasilnya sendiri,” ujar Dwi Andreas.

Menurutnya, berkah ini seharusnya dijadikan momentum untuk membangkitkan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani.

Siklus musiman ini, terjadi juga sejak 7 tahun lalu, dimana harga saat itu mencapai 80 persen. Namun disisi lain, petani menerima harga tinggi pula, yakni sebesar 60 hingga 70 persen. Jadi, belajar dari pengalaman dulu, Dwi meminta masyarakat agar sesekali menikamati kondisi harga mahal demi memperjuangkan nasib petani yang lebih baik.

“Dulu kami juga pernah melakukan kajian pada bulan bulan yang sama dan harga yang diterima petani juga relatif tinggi. bahkan di beberapa tempat ketika harga cabai naik diatas 80 harga yang diterima petani bisa sampai 60 70. Jadi ya sudahlah. Sesekali konsumen membeli cabai dengan harga ya tinggi lah supaya membantu petani,” katanya.

Meski begitu, Dwi mengatakan bahwa dalam waktu dekat kondisi harga cabai perlahan tapi pasti akan berangsur turun. Apalagi, kenaikan yang terjadi selama ini selalu disebabkan oleh cuaca ekstrem seperti curah hujan yang sangat tinggi.

“Sebenarnya tidak ada kaitannya dengan Ramadhan atau lebaran. Kenaikan ini hanya siklus musiman biasa akibat cuaca ekstrim. Dan kalau kita perhatikan saat ini nampaknya mulai kembali normal,” tutupnya.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi mengatakan bahwa pemerintah sudah melakukan analisis dan berbagai perhitungan untuk menjaga stabilitas harga komoditas utama, baik dari sisi produsen maupun konsumen.

Perhitungan yang dimaksud, kata Agung adalah dengan melakukan intervensi pemerintah disaat kondisi harga mulai tidak stabil. Salah satunya dengan memobilisasi daging dari sentra produksi sampai ke pasar.

“Begitu iuga dengan komoditas cabai yang naik karena faktor cuaca. Kami intervensi sehingga masyarakt bisa membelinya dengan harga yang murah. Dan kami pastikan dalam waktu dekat ini harga cabai akan turun,” katanya.

Di samping itu, pemerintah secara rutin memonitoring situasi dan pergerakan harga di lapangan yang dilakukan selama 2 minggu sekali. Hasil monitoring ini selanjutnya dicocokkan dengan data yang dimiliki Badan Pusat Statistik (BPS).

“Oleh karena itu segala macam upaya kita lakukan. secara continue kita melakukan pertemuan rutin dan melakukan intervensi antar lembaga pemerintah, sehingga kenaikan yang terjadi tidak lebih dari 10 persen,” tutupnya.

(*/Brm)